Melihat Desa Sei Lebah dari Dekat

Banjir melanda Sei Lebah

SuaraHKBP.com || Desa Sei Lebah, letaknya tidak jauh dari muara Sungai Asahan. Daerah ini merupakan pulau kecil yang dipisahkan Sungai Asahan dari Kodya Tanjungbalai dan dikelilingi laut Selat Malaka. Posisinya berada di ujung Tanjungbalai di sebelah Timur Laut Pulau Sumatera.

Selain Sei Lebah masih punya tetangga: Sei Paham, Sei Kepayang, Pangkal Tembok. Sei Lebah masuk Kecamatan Sei Kepayang, Kabupaten Asahan.

Sei Lebah disebut juga Sunge Loba atau Sungai Loba. Loba bahasa Batak sama dengan lebah. Lebah serangga penyengat. Bersayap empat. Serangga ini hidup dari madu kembang.

Sawah penduduk tergenang banjir.

Memang, sekitar tahun 60-an di daerah ini, masih sering dijumpai sarang lebah menggelantung di pohon. Bahkan lebah kadang kala terbang bergerombol melintasi perkampungan penduduk. Penduduk kampung bila melihat gerombolan lebah segera berlari menjauh ke tempat yang aman. Mungkin dari sinilah asal usul nama: Sei Lebah?

Pada mulanya Sei Lebah adalah tempat penampungan transmigrasi lokal. Pemerintah kala itu memberikan prioritas bagi penduduk asal Pulau Samosir. Tak heran marga-marga penduduk Sei Lebah kala itu; Simbolon, Samosir, Pandiangan, Harianja, Sinaga, Tamba, Hutabalian, Sihotang, Situmorang, Sagala.

Sei Lebah sebagai daerah pertanian dibuka 1957, khusus untuk transmigrasi lokal. Ada dua gelombang pengiriman transmigran. Transmigrasi gelombang pertama 25 kepala keluarga. Gelompang kedua sebanyak 50 kepala keluarga. Pemerintah waktu itu, menyediakan lahan dua hektar berikut pondok bagi setiap keluarga. Ada juga diberikan perlengkapan pertanian berikut tunjangan keluarga.

Air banjir menggenangi rumah penduduk.

Sekitar tahun 70-an, Sei Lebah terkenal sebagai lumbung padi di Asahan. Maklum, hasil panen sangat menjajikan membuat warga betah tinggal di Sei Lebah. Bayangkan, dari satu hektar sawah bisa menghasilkan 700-1000 keleng padi. Ini tentu berkat kesuburan tanah yang sangat memadai. Para petani tidak pernah menggunakan pupuk. Barulah tahun 80-an, marak menggunakan pupuk.

Sampai tahun 90-an, transportasi ke Sei Lebah, hanya mengandalkan kapal kecil. Kapal inilah sarana pengangkut padi dari Sei Lebah ke Tanjungbalai. Waktu tempuh sekitar dua jam melalui sungai yang bermuara ke Sungai Asahan. Masa itu, belum ada jalan yang bisa dilalui kendaraan. Masih jalan setapak dan masih darurat. Kalau musim hujan jalanan becek dan berlumpur. Apalagi kalau musim banjir—jalanan rata dengan genangan air. Pokoknya harus ekstra hati-hati kalau melewatinya.

Menginjak usianya ke-64, Sei Lebah mulai tampil percaya diri. Wajah Sei Lebah, perlahan-lahan berubah: berseri-seri. Maklum, sentuhan pembangunan sudah dapat dirasakan warga desa. Tidak lagi seperti dulu—desa ini didera derita berkepanjangan; terisolasi, tertinggal, terbelakang dan terlupakan. Minder melihat tetangga sebelah; Desa Sei Paham dan Sei Kepayang, Pangkal Tembok, yang jauh lebih maju.

Warga jemaat HKBP yang terkena dampak banjir menerima bantuan

Jhon Laden Simbolon (63 tahun) yang pulang ke Sei Lebah, Mei 2021, menceritakan perkembangan yang diraih desa ini. Ia menceritakan, jalan sudah mulus dari Sei Lebah hingga Tanjungbalai. Hanya 15 menit dari Sei Lebah ke Tanjungbalai dengan jarak 30 kilometer. Penduduk juga sudah banyak yang punya mobil. “Suasana desa sudah seperti di kota. Penjual sayur dan ikan sudah sampai di depan rumah,” kata Jhon Laden Simbolon yang saat ini tinggal di Bekasi.

Apalagi setelah jembatan Tanjungbalai-Sei Kepayang (Tabayang) di bangun, yang menghubungkan Kota Tanjungbalai dengan Sei Kepayang, dampaknya sangat dirasakan penduduk Sei Lebah. Termasuk perekonomian penduduk mulai menggeliat.

Tabayang termasuk jembatan terpanjang di Sumatera Utara: 600 meter. Sebelumnya, kalau hendak menyeberang ke Tanjungbalai dari Pangkal Tembok, naik perahu.

Kondisi jalan Sei Lebah mulus.

Bukan hanya itu, juga putra-putri Sei Lebah sudah banyak yang sarjana. Tak sedikit yang berhasil di perantauan yang tersebar di penjuru Nusantara. Meskipun orang tua hanya petani yang hanya mengharapkan hasil dari sawah—tapi semangat tak pernah kendor menyekolahkan anak-anak mereka.

Saat ini, di Sei Lebah, ada lima SD Negeri dan dua SMP, SMP Katolik Matamun dan SMP HKBP. Belum ada SMA di desa ini. Apabila ingin melanjutkan ke SMA harus ke kota lain.

Tapi jangan lupa, Sei Lebah, hingga kini masih dililit masalah lama yaitu: banjir. Sedihnya, tahun ini sudah dua kali kedatangan banjir. Ratusan hektar sawah penduduk diterjang banjir. Mereka gagal panen. Sebenarnya masalah banjir ini bukan hal baru menimpa desa Sei Lebah. Hanya belakangan ini, banjir lebih sering bahkan bisa dua sampai tiga kali dalam setahun.

Pdt Norima Nainggolan Pendeta Resort HKBP Pasar V Sei Lebah, menyebutkan, ada 115 kepala keluarga warga HKBP yang sawahnya diterjang banjir. “Saya sangat sedih menyaksikan anggota jemaat ini. Sawahnya ludes ditelan banjir. Padi yang siap panen tidak ada yang tersisa. Mohonlah pemerintah setempat bergegas menanggulanginya,” kata Norima yang baru enam bulan pindah dari Batam.

Bupati Asahan, Surya, saat Pertemuan Konsultasi Masyarakat yang digelar Kementerian PUPR PSDA, kerjasama dengan Asian Deplopment Bank (ADB) dan Project Preparation Consultan Asahan, mengatakan, di Kabupaten Asahan terdapat satu daerah irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah yaitu daerah Irigasi Rawa Sei Lebah, seluas 3.031 hektare. “Saat ini kondisi pengelolaan infrastrukutrnya perlu mendapat perhatian,” kata Surya seperti dilansir Fajarsumatera.co.id

Masyarakat Sei Lebah, sangat mengharapkan proyek irigasi ini segera dapat terwujud.

(Baharuddin Silaen)

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.