Denotasi dan Konotasi

Gorys Kerap, doktor bidang linguistik, lulusan Universitas Indonesia (1978) menguraikan  istilah denotasi dan konotasi, dalam buku: Diksi dan Gaya Bahasa. Disebutkan, kedua istilah ini—acap digunakan dalam filsafat, linguistik, semiotika dan gaya bahasa serta sejumlah perbedaan yang beragam terkait makna.

Denotasi adalah makna kata secara harfiah atau makna sebenarnya dari suatu kata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) denotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif.

Makna denotatif,  disebut juga makna denotasional, kognitif, konseptual,  ideasional, referensial atau makna proposional. Disebut makna denotasional, referensial, konseptual atau ideasional—karena makna itu—menunjuk (denote) kepada suatu referen—konsep atau ide tertentu dari suatu referen.

Sebenarnya, dalam bentuk murni—makna denotatif selalu bersinggungan dengan bahasa ilmiah. Soalnya, lebih mengarah kepada fakta konkrit, aktual dan relevan yang memang adalah tujuan utamanya. Selain tidak menginginkan interperetasi tambahan dari pembaca—dan juga tidak ada peluang membuat interpretasi semisal memilih kata yang konotatif atau emosional.

Lalu, agar terhindar dari interpretasi macam-macam yang membuat tambah rancu dan keliru—ini pun tergantung kejelian serta kecermatan penulis  memilih kata dan konteks yang relatif bebas interpretasi. Apalagi setiap kata memiliki denotasi—karena itu, penulis tidak boleh tidak harus memilih kata yang tepat, benar, baku  dan akurat.  Begitu juga makna denotasi, penulis harus benar-benar cermat memilih kata agar terhindar dari interpretasi yang beragam.

Contoh kalimat denotatif dan konotatif dalam berita.

“Korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor di Nusa Tenggara Timur, 117 meninggal dunia dan 76 orang hilang.” Data per Selasa (6/4) pukul 21.00 Wita (denotatif)

“Banyak korban meninggal dan hilang akibat banjir bandang dan longsor di Nusa Tenggara Timur.” (konotatif)

“Ada tujuh kabupaten/kota di NTT yang mengalami rusak berat. Antara lain, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Alor, Kabupaten Malaka dan Kabupaten Sabu Raijua.” (denotatif)

“Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Josef Nae Soi, mengatakan, hampir seluruh daerah di NTT terdampak bencana banjir dan tanah longsor.” (konotatif)

Gorys Kerap, menambahkan,  makna denotatif dapat dibedakan atas dua macam relasi. Pertama, relasi antara suatu kata dengan barang individual yang diwakilinya. Kedua, relasi antara suatu kata dan ciri-ciri atau perwatakan tertentu dari barang yang mewakilinya. “Pengertian kursi adalah ciri-ciri yang menjadikan sesuatu disebut sebagai kursi, bukan sebuah kursi individual.”

Terkait dengan penjelasan Gorys Kerap,  pilihan kata (diksi) yang tepat dalam suatu ide atau gagasan—juga  sangat menolong pembaca memahami rangkaian ide yang tertuang dalam tulisan. Bukan saja memudahkan pembaca memahaminya—tapi  juga menuntun pembaca agar tetap di jalur pemikiran penulisnya. Ini pun tidak lepas dari kemampuan penulisnya ketika memilah-milah  kata yang tepat dipergunakan.

Contoh: melihat, menengok, melirik, mengintip, memandang, menatap, membelalak dan melotot.

Kata ini, semuanya berkaitan dengan mata atau indra penglihatan. Namun, masing-masing kata punya makna yang berbeda. Apabila pilihan kata tidak tepat sesuai gagasan yang terkandung dalam tulisan—dapat dipastikan ide atau pesan penulis tidak akan dapat dipahami sebagaimana yang ada di benak penulisnya.

Makna Konotasi

Makna konotasi atau makna konotatif disebut juga makna konotasional, makna emotif atau makna evaluatif. Konotatif termasuk jenis makna di mana stimulus dan respon mengandung nilai-nilai emosional. Konotatif biasanya muncul karena pembicara/penulis ingin menyampaikan perasaan setuju—tidak setuju, senang—tidak senang.

Satu sisi—sinonim kadang kala dianggap berbeda hanya dalam konotasinya. Nyatanya tidak selalu demikian. Sebab, ada sinonim yang memang hanya mempunyai makna denotatif—tapi  ada juga sinonim mempunyai makna konotatif.

Sebut misalnya: mati, meninggal, wafat, gugur, mangkat, berpulang. Kata-kata ini memiliki denotasi yang sama; peristiwa di mana jiwa sesorang telah meninggalkan badannya. Namun jangan silap, kata meninggal, wafat, berpulang mempunyai konotasi tertentu. Bahkan mengandung nilai kesopanan atau dianggap lebih sopan—sedangkan mangkat mempunyai konotasi mengandung nilai kebesaran. Gugur, mengandung nilai keagungan dan keluhuran. “Sebaliknya, kata persekot, uang muka atau panjar, hanya mengandung makna denotatif.”

E Zaenal Arifin dan S Amran Tasai, dalam buku; Cermat Berbahasa Indonesia, menjelaskan; makna konotatif adalah makna asosiatif—makna  yang timbul dari sikap sosial—sikap  pribadi dan kriteria tambahan yang dikenakan pada makna konseptual.

Ternyata, makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. Ia tidak tetap. Kata “kamar kecil” mengacu kepada kamar yang kecil (denotatif) tetapi “kamar kecil” berarti juga jamban (konotatif) Dalam hal ini—kadang  lupa apakah suatu makna kata itu denotatif atau konotatif.

Kata “rumah monyet” mengadung makna konotatif. Akan tetapi, makna konotatif itu tidak dapat diganti dengan kata lain sebab nama lain untuk kata itu tidak ada yang tepat. Begitu juga dengan istilah “rumah asap.”

Makna konotatif sifatnya lebih profesional dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.

Contoh kalimat denotatif dan konotatif.  Dia adalah wanita cantik (denotatif)

Dia adalah wanita manis (konotatif)

Kata cantik lebih umum daripada kata manis. Kata cantik, memberikan gambaran umum tentang wanita. Akan tetapi, kata manis terkandung suatu maksud yang lebih bersifat memukau perasaan.

Begitu juga nilai kata dapat bersifat baik dan bersifat jelek. Kata yang berkonotasi jelek misalnya; tolol (lebih jelek daripada bodoh) mampus (lebih jelek daripada mati) gubuk (lebih jelek daripada rumah) Kata-kata ini—dapat  pula mengandung arti kiasan yang terjadi dari makna denotatif referen lain. Makna yang dikenakan kepada kata itu dengan sendirinya akan ganda sehingga kontekslah yang lebih berperan dalam hal ini.

Misalnya, “Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.” Kata “membanting tulang” (makna denotatif adalah membanting sebuah tulang) mengandung makna “bekerja keras” yang merupakan kata kiasan. Kata membanting tulang—termasuk  kata yang bermakna konotatif.

Sama halnya dengan kata yang dipakai secara kiasan disebut idiom atau ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam kata yang bermakna konotatif. Kata-kata idiom atau ungkapan:  keras kepala, panjang tangan, sakit hati,

Selain bentuk idiom, ada juga kata yang memantulkan nilai rasa menyenangkan dan ada pula yang mengandung kebencian. Misalnya, kata gagah-berani, masyhur, berani, mulia, harapan, bahagia, kemerdekaan—mengandung konotasi atau nilai evaluatif yang baik. Tetapi kata seperti penakut, pengecut, hina, tolol, putus asa, keji, penjajahan, kejam, tebal muka, penghianat, durhaka—semua ini mengandung konotasi yang kurang menyenangkan.

Selanjutnya—ketika  berinteraksi dengan siapa pun dengan media apa pun—sangat baik dan bijak apabila menggunakan kata-kata yang sopan, santun, menyejukkan, memotivasi, menguatkan, meneguhkan, menghargai, menghormati, menyayangi dan kata yang memberi semangat dan menghibur. (Baharuddin Silaen)

 

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.