Warga Digital di Era Media Oline

media massa tidak lagi hanya sekedar alat menyebarkan informasi ke seluruh belahan bumi, tetapi juga alat menyusun agenda serta memberitahu kita acara apa yang penting dihadiri.

Warga Digital di Era Media Oline

SuaraHKBP.com | Tersebutlah Harold Lasswell (1948) yang dijuluki; “the father of our field” bapak ilmu komunikasi yang kemudian hari namanya melambung berkat formula yang ditemukannya yaitu; “Who says what, in wihch channel, to whom with what effects.”

Formula Lasswell ini menjadi acuan pada kajian bidang ilmu komuniaksi yang fokus mengamati proses tindak komunikasi yang melibatkan; komunikator, pesan, media, komunikan dan umpan balik (with what effect)

Selain Lasswell, ada Marshall McLuhan yang populer dengan; global village yang melontarkan idenya; media komunikasi modern memungkinkan jutaan orang di seluruh duania secara berkesinambungan terkoneksi.

Ia menambahkan, media massa tidak lagi hanya sekedar alat menyebarkan informasi ke seluruh belahan bumi, tetapi juga alat menyusun agenda serta memberitahu kita acara apa yang penting dihadiri.

Tak terkecuali pakar ilmu komunikasi yang kondang ini; Stephen W Littlejohn. Ia cukup dikenal di kalangan akademisi, selain teorinya sering disebut bersifat multidisipliner, juga objek pengamatannya luas, kompleks menyangkut aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik.

Kemiripan teori yang digagas, dapat dijumpai pada unsur media atau perantara dalam kajian mereka bertiga. Hebatnya, media atau sarana yang digunakan menyebarkan informasi merupkan perbincangan yang serius dan bukan sekedar menempel pada percakapan basa-basi kelas emperan.

Harap dimaklumi, bagi mereka media sebagai alat perantara dalam kajian ilmu komunikasi, wajarlah kalau disebutkan, menempati posisi strategis yang dapat diandalkan menyerobos kepadatan lalu lintas komunikasi di dunia maya.

Teori yang mereka gagas dahulu, kini sudah nyata di depan mata tatkala warga sudah akarab dengan Facebook sebagai media sosial terpopuler sejagad. Evolusi ekologi media benar-benar menggeliat melingkupi aspek kehidupan manusia. Sejak itulah sebutan warga masyarakat digital di era online layak diterima.

Bayangkan, seperti dilansir Agus Sudibyo dalam buku; “Jagad Digital Pembebasan dan Penguasaan,” pada akhir 2018 Facebook digunakan 2,6 miliar orang di seluruh dunia.

Jangan silap, sebanyak 2,6 miliar pula Facebook menguasai data diri dan perilaku kita. Data itu tersimpan rapi dan apik dalam big data. Tidak bakalan terhapus apalagi hilang dimakan rayap. Hebatnya, kapan saja di mana saja bisa dilacak oleh mesin pencari (artificial intelligence)

Asal tau saja ya, saat melakukan registrasi, saat yang bersamaan dengan segala hormat dan senang hati pula, telah menyerahkan data diri kita tanpa sedikit pun curiga. Selebihnya, ketika rajin membuat status, menceritakan aktivitas sehari-hari. Misalnya makan baso di rumah tetangga sebelah, jauh lebih asyik. Mengunggah foto, memberikan komentar atau “like” atas status orang lain.

Sebenarnya, tanpa disadari, saat itu sedang membiarkan diri dengan suka rela direkam sekaligus terindentifikasi oleh Facebook. Tentulah tidak ada pihak yang patut disalahkan mengenai hal ini. Sama-sama ikhlas, bukan. Sama-sama suka. Tapi satu sisi ada unsur paksaan, bahkan kadang kala didikte untuk melakukan sesuatu. Misalnya membeli sesuatu. Berlangganan sesuatu. Lucunya dirayu makan dan minum produk tertentu. Dirayu beberlanja di tempat tertentu dan bengkel terdekat. Dipaksa selfi dan dibagikan ke online.

Selain itu, media sosial berikut mesin pencari misalnya Facebook, Google, Yahoo, YouTube, dan Twitter, setia menjalankan tugas mengawasi dan memata-matai penggunanya. Bayangkan dalam hitungan menit mampu melacak kebiasaan, identitas, bahkan sederet data perilaku para penggunanya.

Bukan hanya itu, ia juga cekatan melacak posisi kita berada, kendaraan yang digunakan, tempat makan dan minum yang sering kita kunjungi, barang yang kikoleksi, lokasi liburan yang disukai, gangguan kesehatan yang dirasakan serta bank yang kita gunakan.

Nah, agar kita terhindar dari hal-hal yang buruk, harap waspada dan hati-hati menulis berita dan celoteh Anda di Facebook atau media sosial. Apalagi berita bohong, fitnah, ujaran kebencian, permusuhan, dalam tempo singkat akan terciduk. Bahkan segera ditemukan di mana pun bersembunyi. Jangankan kabur ke hutan, ke lobang tikus pun diburu. Jangan harap bisa berkelit, data yang terekam dalam status, menjadi bukti ketololan Anda.

Sejak pemerintah menganjurkan; stay at home untuk memutus penularan Covid 19, intensitas pemakai media online meningkat dari biasanya. Apalagi setelah diberlakukan, kerja dari rumah, sekolah dari rumah, kuliah dari rumah, beribadah di rumah dan perihal yang bisa dilakukan dari rumah, warga bertambah kreatif memanfaatkan media sosial secara maksimal. Mendadak menjadi warga masyarakat digital yang melek media online. Mungkin juga ada yang minta bantuan membuatkan aplikasi Zoom agar bisa diskusi jarak jauh melalui online. Sangat lumrah dan wajar.

Setelah diberlakukan larangan berkumpul dan menghindari tempat keramaian serta beribadah di rumah. Warga masyarakat bertambah kreatif termasuk membuat kemasan ibadah melalui media online. Harus diakui, tidak gampang meningalkan tradisi yang sudah ribuan tahun ditekuni selama ini.

Ingatlah, hanya sementara waktu beralih dari kebiasan yang sudah mapan, selanjutnya akan kembali melakukan aktivitas seperti sedia kala. Saatnya warga masyarakat digital lebih kreatif berkomunikasi dengan media sosial yang kita miliki.

Stay at home. Jaga jarak. Pakailah masker. Rajin cuci tangan dengan sabun. Hindari kerumunan. Berpikir postif. Berdoalah memohon kekuatan kepada Tuhan agar diberikan kekuatan mengalahkan penyakit yang tengah kita hadapi.

(Baharuddin Silaen)

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.