Dies Natalis Ke-55, Ketum PIKI: “Kehadiran PIKI bukan respon transaksional”

Dies Natalis Ke-55 PIKI

Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI) mengadakan Perayaan Dies Natalis Ke-55 sekaligus Ibadah Natal yang digelar di Aula Lembaga Alkitab Indonesia, Salemba, Jakarta, Rabu malam, 19 Desember 2018.

Perayaan Dies Natalis PIKI Ke-55 ditandai peniupan lilin kue ulang tahun yang dipimpin langsung oleh Baktinendra Prawiro dan didampingi jajaran pengurus DPP PIKI.

Pengurus DPP PIKI yang hadir, antara lain, Audy Wuisang, STh, MSi (Sekjen), Theofransus Litaay, SH, LLM, PhD (Waketum), Dr Badikenita Puteri Sitepu SE, MSi (Waketum), Ir Izaac JR Litaay (Ketua Bidang), dr Evie Douren (Ketua Bidang), Woro Wahyuningtyas (Ketua Bidang), Dra Irene L Simanjuntak MA (Ketua Bidang), Angel Damayanti MSi, PhD dan (Wasekjen) dan Merdy Ervina Silaban – Rumintjap, SSos, MSi (Sekretaris).

Sebelumnya diadakan ibadah yang dipimpin oleh Ketua PGI, Pdt Dr Albertus Patty. Dalam kotbahnya, Pdt Albertus Patty, menekankan pentingnya peran kaum intelektual, khususnya yang tergabung dalam organisasi PIKI, memberikan jawaban rasional terhadap berbagai krisis yang tengah terjadi di negara ini.

“Banyak orang menunggu respon cerdas dari PIKI untuk menjawab persoalan bangsa ini. Jangan sampai mereka akhirnya mencari jawaban yang gampangan melalui wangsit dukun atau cukup berdoa saja biar Tuhan Yesus yang bereskan semuanya,” tegas Albertus.

Ibadah Natal kala itu bertambah sahdu manakala diadakan penyalaan lilin Natal oleh Baktinendra Prawiro, Pdt Gomar Gultom, Sigit Triyono, Ny SAL Tobing dan Pdt Albertus Patty yang kemudian nyala lilin disebarkan kepada seluruh undangan yang hadir saat itu.

Ketua Umum DPP PIKI, Baktinendra Prawiro MSc, MH, dalam pidatonya pada Dies Natalis PIKI Ke-55, mengucap syukur usia PIKI yang kini mencapai umur 55 tahun.

“Sesuatu yang bertahan pasti bukan hanya kekuatan manusia saja tapi ada campur tangan Allah,” ucap dia.

Menurut Baktinendra, sejak berdiri 19 Desember 1963, PIKI sampai saat ini masih mengusung gerak ganda PIKI yaitu gerak nasionalisme kebangsaan dan gerak gerejawi yang dicetuskan pada Munas Kerja Pertama PIKI tahun 1964.

“Kehadiran PIKI bukan respon transaksional atas kondisi bangsa dan negara Indonesia pada waktu itu. Tapi kita menyakini PIKI adalah perutusan Tuhan bagi Kaum Intelektual Kristen untuk hadir di Indonesia untuk memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara ini,” tegas dia.

Sementara Sekum PGI, Pdt Gomar Gultom MTh, dalam sambutannya, mengutip puisi sastrawan WS Rendra, bahwa kaum inteligensia punya tempat strategis ditengah-tengah masyarakat dan tidak pernah berumah di keraton.

“Godaan terbesar saat ini adalah kita berlomba-lomba untuk masuk ke keraton, entah itu keraton negara atau keraton gereja. Ketika masuk dalam keraton dikhawatirkan, kita akan kehilangan inteligensia. Masih menurut puisi WS Rendra, karena itu biar kaum inteligensia tetap diatas angin,” tandasnya.

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.