TIGA BERSAUDARA CACAT FISIK

Trio Bersaudara bersama orangtua, Pdt Situngkir menghunjuk telapak kaki Pak Tampubolon yang buntung

Pagi itu, saya bergegas dari rumah di Medan menuju arah Belawan untuk menjumpai Embron, yang beralamat  di Jalan Labuhan Deli, Simpang Seruwe.

Setelah tiba di rumah yang dituju, seorang ibu membukakan pintu, dan mempersilahkan saya masuk. Betapa mengharukan, melihat tiga orang seperti duduk bersila di tikar.

Ternyata, ketiganya cacat fisik. Tidak dapat berdiri apalagi berjalan selain merangkak. Mereka bersaudara kakak beradik, anak dari  Binsar Tampubolon (61) dan R Sinaga (60).

Foto bersama ketika naik sidi dilayani Pdt Eljas Siahaan, 3 April 2016
Foto bersama ketika naik sidi dilayani Pdt Eljas Siahaan, 3 April 2016

Salah satu dari mereka bertiga, yang sebelumnya teman berkomunikasi di medsos (Facebook) menyebut dirinya Embron (20) anak keempat dari lima bersaudara. Erwin anak sulung (26) dan Ebit si bungsu (16) ketiganya bernasib sama.

Orang tuanya menyebut ketiga anaknya berpenyakit aneh. “Mereka  lahir bertumbuh normal sampai SD,” kata R Sinaga.

Mulai lumpuh setelah SMP. Hanya Embron sempat tamat SMA, walau pada tahun terakhir sudah terhuyung-huyung jalannya. Erwin pernah sampai jatuh.

“Terjadi kelemahan otot,” kata Embron.

Dua lagi anak mereka tumbuh normal. Jeremia (24) putra kedua telah bekerja di PT Waruna Belawan dan beristri yang memberi mereka seorang cucu. Putrinya Enni Natalia (22) kuliah di FKIP Jurusan Matematika Universitas HKBP Nommensen.

Dua kursi roda sumbangan dari St Drs T.J.P Manurung, satu lagi dari Pdt B. Panggabean (GBI)
Dua kursi roda sumbangan dari St Drs T.J.P Manurung, satu lagi dari Pdt B. Panggabean (GBI)

Hidup mereka yang pas-pasan telah terkuras untuk pengobatan. Si bungsu kuat makan dan menjadi gemuk, tetapi kenapa ototnya tidak menjadi kuat?

Ada yang menawarkan pengobatan, antara lain; pijat, therapi, obat tradisional, termasuk menganjurkan mandi air hangat di Lau Debuk-debuk (Sembahe, tanah Karo) Berobat ke rumah-rumah sakit dilakukan dengan mengandalkan BPJS, tapi tahun-tahun terakhir ini tidak lagi mampu membayar iuran bulanan BPJS.

Sejak 2008, Binsar Tampubolon, telah pensiun dini, karena kecelakaan. Telapak kakinya putus tergilas roda kereta api, karena terpeleset.

Sebelumnya dia pegawai Stasiun KA Labuan. Dokter-dokter yang pernah menangani menyebut penyakit aneh ketiga anaknya sebagai: Dystrophy Muscular Progressive, disingkat DMP.

Dari internet, dapat diketahui penyakit DMP, adanya kelainan distrofi otot yang bersifat progresif disebabkan abnormalitas gen yang diturunkan secara ontosom.

Tentu dokter yang mengerti ini, tetapi yang membuat mereka hampir putus asa, adanya pernyataan dokter hingga sekarang belum ditemukan obat disabilitas atau keterbatasan diri yang bersifat fisik.

Namun, mereka percaya kuasa doa akan menyembuhkan dan menolongnya. Untuk mengisi waktu, mereka suka bernyanyi sambil bermain keyboard seadanya dan bermain komputer yang berkapasitas rendah.

Embron Tampubolon, tak lupa menyampaikan terima kasih kepada St. Drs TJP Manurung dan Pdt B Panggabean (GBI) atas perhatiannya yang menyumbangkan kursi roda untuk mereka bertiga.

“Mohon kami dukung dalam doa dan biarlah Tuhan yang memberikan petunjuk buat keluarga kami untuk menanggulangi derita kami ini,” kata Embron via media sosial Facebook.

(Pdt. Drs. S. Situngkir)

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.