TEOLOGI SUKSES

Oleh: Baharuddin Silaen

Teologi sukses, disebut juga teologi keberhasilan atau teologi kemakmuran. Teologi sukses ini—kian marak setelah gaya hidup bergeser ke materialistis dan bermewah-mewah (konsumeristis) di mana uang dan materi (mamon) dipuja-puja dan dikejar.

Sebenarnya teologi sukses—ekses dari  ekonomi global yang mencuat di Amerika Serikat, sejak berakhir Perang Dunia II (1939-1945) dan Perang Korea (1950) Ekonomi di AS maju pesat karena dipacu oleh industri perang yang luar biasa, saat itu AS tampil sebagai pemenang.

Kemenangan perang ini, setidaknya punya andil  mendongkrak perekonomian dan perindustrian AS, melesat—lalu terciptalah komunitas masyarakat yang makmur dan berkelimpahan secara materi.

Akibat pola hidup  materialisme yang terus membentang luas—terpaannya pun tak terelakkan hingga  merembes  ke dalam sipritual manusia yang ditandai dengan kekosongan rohani yang gersang. Padahal manusia pada hakekatnya tidak dapat dipuaskan hanya dengan materi saja.

Serunya, kelompok pemuja kesuksesan terus marak di mana-mana. Mereka dengan lihai mengemas ajaran Injil dengan cantik serta menggiurkan—membungkus kemewahan materi dengan trade mark agama (Injil) yang mencengangkan. Tiap orang yang sukses—gereja yang makmur—negara yang makmur adalah anugerah dan berkat Tuhan sehingga tingkah laku manusia diarahkan mengejar kemakmuran dan sukses.

Tak sebatas itu, lihatlah sederet buku-buku yang membahas cara meraih sukses yang dibumbui  kesaksian dari sejumlah orang sukses—laku keras—seperti yang dilakukan oleh Norman Vincent Peale dan para psikolog sekular.

Tidak heran, filsafat American mentalism yang tidak dapat dihempang malah terus membumbung  dan melahirkan banyak penginjil penganjur ajaran sukses. Mereka bahkan tidak segan-segan menggunakan siaran televisi dengan bayaran tinggi. Mereka terkenal sebagai TV-Evangelists. Siaran-siaran penginjilan melalui TV berkembang menjadi bisnis besar, misalnya penginjil Oral Roberts. Penginjil TV ini sampai mempermalukan kekristenan di Amerika, karena berseru meminta uang kepada pemirsa. Bahkan ada penginjil yang rentan skandal?

Lihatlah gaya hidup para penginjil penganut teologi kesuksesan, mereka hidup dalam kemewahan—punya mobil mewah—punya rumah besar dengan kemewahan duniawi. Kecenderungan untuk berlomba-lomba membangun gereja dan Praise Center besar, mengadakan acara-acara out reach yang dihiasi pernak-pernik glamour ala dunia show-biz. Bahkan ada gereja yang mempunyai motto: “Kami adalah keluarga Allah yang sukses dan bahagia.” (Successful Bethany Family)

Hebatnya, tak terkecuali di atas panggung dengan dekorasi pernak-pernik lighting yang spektakuler, sang penginjil memperkenalkan dirinya dengan percaya diri, bagaimana Tuhan Yesus menangkapnya pada suatu hari—menceritakan keluarganya—riwayat hidup dan pertobatannya. Semua dikisahkan dari atas panggung sambil mondar-mandir mengitari panggung—sama sekali tak tampak rasa grogi berdiri di hadapan ribuan umat yang memadati lapangan terbuka.

Berulangkali, tepuk tangan meriah dan teriakan; “Haleluya, Puji Tuhan,” menyambut kisah hidup sang penginjil. Mungkin,  karena terlalu asyik dan dibumbui semangat yang menggebu-gebu, dia lupa akan etika berkotbah—sehingga pusat sentral kotbah bergeser kepada dirinya;  keluarga, hartanya, namun tentang Yesus dalam Injil nyaris terpinggirkan, bahkan hanya sekedar pemanis dan pelengkap dalam rangkaian tata kebaktian.

Jangan kaget, apabila pribadi penginjil yang menonjol dan dominan sepanjang KKR berlangsung. Lantas, kisah hidupnya yang diingat umat yang mengikuti KKR. Hartanya, keberhasillannya sebagai penginjil (pengotbah) bergengsi, itu yang diingat warga jemaat. Tentang Yesus yang seharusnya pusat dari pemberitaan Injil, sangat minim diangkat dalam kotbah.

Tak terkecuali lagu-lagu pujian yang dinyanyikan—hampir semua penyembahan kepada Allah yang luar biasa. Allah yang Mahabesar dan Mahakaya ini diiringi dengan kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang menekankan; “Berkat Tuhan dan Kesembuhan Ilahi”, disertai dengan demonstrasi mukjizat-mukjizat. “Betul, hanya mereka dan Tuhan yang tau kebenaran mujizat itu,” sindir seorang warga gereja yang pernah mengikuti KKR.

Tiada KKR tanpa pengurapan dan demonstrasi penyembuhan. Tak heran, setiap ada KKR, ada antrian orang yang ingin disembukan oleh sang pengotbah yang termasyhur. Mereka sengaja dibawa keluarga untuk disembukan dari berbagai jenis penyakit yang mendera;  dari yang ringan dan parah, mulai dari batuk, kejang-kejang, susah tidur, mati sebelah, stroke dan lumpuh.

Wow, mendadak panggung berubah seperti ruang gawat darurat rumah sakit. Panggung disulap seperti penampungan orang sakit yang dimeriahkan nyanyian pemujaaan yang diringi musik ingar-bingar. Layaknya kebaktian hura-hura dengan asesori Injil yang menawarkan keselamatan  jiwa dan pertobatan.

Tidak kepalang tanggung, tema kotbah pun menyerempet dengan uang/materi seraya menekankan arti persembahan, terutama berbentuk persepuluhan. “Makin banyak memberi, makin banyak berkat yang akan diterima,” ujar pengotbah di hadapan ribuan warga jemaat yang memadati hall.

Kadang kebaktian diselengi  kesaksian-kesaksian menerima berkat, sukses dagang atau kesembuhan setelah memberi persembahan persepuluhan. Begitu juga kesaksian-kesaksian orang kaya yang bertobat atau diberkati dalam usahanya. Ternyata kotbah itu, mampu menembus pusat hati dan pikiran—lantas ada yang tergerak spontan, lalu menyerahkan hartanya dengan jumlah yang tak kepalang tanggung banyaknya.

Terjadilah pemujaan pada yang kaya, termasuk pemilik perusahaan besar. Apakah disengaja atau tidak—terjadi sekularisasi dan komersialisasi agama—berupa persekongkolan atau kerja sama antara ibadah dan interes perusahaan—dengan adanya pemasangan iklan dan pesan sponsor yang dipajang di berbagai sudut kota. Ada yang ditayangkan di televisi dengan durasi agak lama.

Fenomena yang menarik dalam perkembangan teologi sukses; penonjolan tokoh tertentu, pengkultusan “nabi-nabi” tertentu. Ajarannya lebih bergantung pada ucapan tokoh-tokoh ketimbang  apa yang dikatakan firman Tuhan. Ucapan tokoh-tokoh penginjil yang dikultuskan itu yang dipublikasikan—sehingga penginjil jauh lebih hebat daripada Yesus Kristus yang diberitakan.

Selain itu, penginjil teologi sukses gemar mengutip ayat-ayat Alikitab secara licik dan lihai. Inilah salah satu sebab mengapa banyak orang yang tertarik pada ajaran ini. Mereka menyangka ajaran tersebut didasarkan pada kebenaran Injil. Lalu, firman Tuhan yang dikutip dipopulerkan  sebagai slogan yang dipahami secara harfiah bahkan acap di luar konteks, bahkan sering berlawanan dengan arti sebenarnya yang dimaksudkan oleh konteks ayat itu.

Pada umumnya tema pokok kotbah yang ditonjolkan para penginjil teologi sukses; “tidak ada yang mustahil bagi Allah,”  “kaya dan berkelimpahan dan  berilah dan mintalah.” Lalu dibingkai dengan ayat-ayat yang dapat meyakinkan; seperti; “Tidak ada yang mustahil dan tidak mungkin bagi Allah yang Mahakuasa. Mateus 19: 26, Markus 9:23b, Lukas 1:37,  Markus 10:27.

Pokoknya orang yang sukses atau gereja yang makmur itulah  yang diberkati. Orang sukses dikarunai Roh Kudus. Gereja yang tidak berkembang dan lamban pertanda Roh Kudus tidak bekerja. “Pendetanya, hanya memikirkan hal duniawi dan melelu mengurusi administrasi gereja. Pendetanya belum bertobat,” inilah tuduhan penganut teologi sukses kepada pendeta di luar kelompoknya.

Belum lagi kotbah penginjil,  berulang-ulang hanya menyampaikan ayat tertentu, setiap ada KKR, di mana pun dan kapan pun digelar. Wajarlah apabila penginjil hapal mati, materi kotbah—lancar bagaikan air yang mengalir—maklum materi kotbahnya hanya seputar itu saja. Mungkin sudah ratusan kali disampaikan kotbah yang sama pada setiap ada KKR.

Masih mendingan materi kotbah seperti itu—tapi bayangkan kalau ada penginjil sampai lupa diri, lalu menjelekkan denominasi gereja yang lain yang mengklaim anggota jemaatnya tidak bertumbuh iman—tidak mau memberi persembahan kepada Tuhan. Ironis, kalau begini model penginjil masa kini, yang hanya ingin mempertebal pundi-pundi.

Harap diingat, Yesus pernah menyebutkan berbahagialah orang miskin (Mateus 5:3) dan memperingatkan dengan keras orang kaya: “Celakalah kamu, hai orang kaya” (Lukas 6:24). “Berjaga-jaga dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu.” (Lukas 12:15).

Kepada seorang kaya yang sejak masa mudanya setia menuruti segala perintah Allah, Yesus berkata: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Markus 10:21)

Ketika Ia mengutus murid-murid-Nya, Ia melarang mereka membawa apa-apa dalam perjalanan, “Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.” (Lukas 9: 3, 10:4)

Menarik apa yang disamapikan Yesus;  “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon” (Mateus  6: 24)

Suatu hal yang pasti dan harus diteladani, sebagaimana disampaikan Yesus ini;  “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,  memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24.*** (bas)

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.