KATA JENUH

Oleh: Baharuddin Silaen

Kata jenuh atau penat ialah kata yang berulang-ulang dipergunakan.  Karena terlalu sering dipakai, yang membaca pun bosan—jenuh dan letih membacanya.

Kata jenuh dari segi fungsi, termasuk kategori  basa-basi—klise—sama sekali tidak ada faedahnya. Tidak beda dengan kata mubazir.

Sepintas, kata-kata itu tidak bermasalah—enak dibaca—tapi kendati enak dibaca jika tidak ada manfaatnya atau malah bikin jenuh dan letih, ya buat apa?

Inilah beberapa kata jenuh yang masih digemari wartawan dalam penulisan berita, antara lain; “dalam rangka,” “sementara itu,” “dalam pada itu,” “perlu diketahui,” “dapat ditambahkan” dan “selanjutnya.”

Asal-usul kata jenuh ini, masuk ke dalam penulisan berita, diduga dicontek wartawan dari surat kabar dan dianggap benar. Begitulah turun-temurun hingga kini?

Contoh kata jenuh dalam penulisan berita;  “Dalam rangka” tahun wisata, di Jakarta, diadakan pertemuan dengan pemerhati parawisata.”

Kata “dalam rangka” dalam kalimat ini, tidak ada faedahnya—kecuali basa-basi. Mengapa musti dibuka dengan kata; “dalam rangka,”  habis kamuskah?  Apa makna “dalam rangka” dalam kalimat ini? Tidak ada maknanya.

Sebaiknya, ditulis; “Menyongsong tahun wisata, di Jakarta, diadakan pertemuan dengan pemerhati parawisata.” Kata “menyongsong,” lebih jelas dan konkrit ketimbang “dalam rangka.” Atau diganti dengan; “menyambut” tahun wisata, lebih jelas dan bermakna.

Contoh lain kata jenuh; “Dalam rangka” hari HIV/AIDS, belum lama ini diadakan penyuluhan kepada…”

Lebih baik ditulis dengan; “Memperingati” hari HIV/AIDS, belum lama ini diadakan penyulihan kepada…”

Bandingkan bedanya; “dalam rangka” dengan “memperingati.”  Kata “memperingati” jauh lebih jelas  maknanya.

Kekalutan acap muncul tatkala memilih kata agar tetap berkesinambungan pada saat pergantian paragraf baru.  Sangkin ruetnya, terpaksa wartawan mencari paling gampang saja, seperti  menuliskan kata; “sementara itu” pada pergantian alinea baru.

Contoh; “Sementara itu,” gubernur dalam pidatonya menekankan pentingnya penghijauan digalakkan. Sekilas, tak ada masalah dalam kalimat ini.  Sayang, kata “sementara itu” dalam penulisan berita tidak dianjurkan—karena dianggap kata jenuh (tired words)

Sebaiknya ditulis, “Gubernur dalam pidatonya menekankan pentingnya penghijauan digalakkan.”

Jangan dibiasakan menulis kata “sementara itu” dalam berita. Ingat, kata ini hanya basa-basi yang tidak bermanfaat!

Ungkapan lain yang termasuk kata jenuh; “dalam pada itu.” “Penanaman pohon di Kapuk, Jakarta, diikuti dari berbagai kalangan masyarakat, “dalam pada itu” sambutan yang disampaikan gubernur mendapat sambutan hangat.”

Penulisan yang benar; “Penanaman pohon di Kapuk, Jakarta, diikuti berbagai kalangan msyarakat, sambutan yang disampaikan gubernur mendapat sambutan hangat.”

Kalimat ini, singkat, padat menarik dan lancar. Tidak ada faedahnya kata; “dalam pada itu” dalam kalimat ini. Sekali lagi, hanya basa-basi dan menjenuhkan!

“Perlu diketahui,” ungkapan ini pun sering dijumpai pada awal paragaraf—biasanya menjelaskan suatu keadaan.  Khusus penulisan berita,  “perlu diketahui” sebaiknya dibuang saja.

Contoh; “Perlu diketahui,  demo mahasiswa menolak harga BBM berlangsung tertib dan aman.”

“Demo mahasiswa menolak harga BBM berlangsung tertib dan aman.” Langsung saja ke pokok kalimat, tidak usah dicantumkan dalam berita “perlu diketahui.”  Coba, untuk apa, tidak ada gunanya, bukan?

Satu lagi, kata jenuh; “dapat ditambahkan.”  Wartawan, biasanya menuliskan ungkapan ini, di akhir paragaraf.

Misal; “Dapat ditambahkan” jumlah kerugian penduduk akibat banjir ditaksir miliaran rupiah.”

Tulis saja; “Jumlah kerugian penduduk akibat banjir ditkasir miliaran rupiah.”  Kata “dapat ditambahkan” adalah kata jenuh dan membosankan. Tidak perlu!

Terakhir, kata jenuh: “selanjutnya.”  “Selanjutnya” peserta seminar sepakat mendeklarasikan kepedulian bersama terhadap korban HIV/AIDS.”

“Peserta seminar sepakat mendeklarasikan kepedulian bersama terhadap korban HIV/AIDS.”  Kalimat ini, tanpa kata: “selanjutnya.”  Lancar, singkat, padat dan menarik.

Hindarilah kata-kata jenuh, penat dalam tulisan—apalagi tidak tahu artinya. Tulislah apa yang Anda ketahui.

(Baharuddin Silaen, mengajar di Fisipol UKI Jakarta, mengampu mata kuliah Dasar Dasar Jurnalistik dan Bahasa Jurnalistik)

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.