MEMENTO MORI

Pdt Luhut P Hutajulu

Seorang pemuda dengan geram berguman, “Lebih baik aku bunuh diri!”

Seorang remaja pemungut bola sambilan di lapangan tenis sedang mencuri-curi kesempatan melatih diri bermain tenis. Mimpinya tinggi, ”Aku akan menjadi petenis nasional!”

Apa persamaan kedua contoh ini? Kedua orang itu mempunyai ‘naluri kematian.’ Namun, pewujudannya berbeda: yang satu ingin cepat mati, sedangkan yang lain ingin menjadikan hidupnya penuh arti.

Naluri adalah dorongan hati yang ada sejak lahir. Naluri adalah pembawaan alami yang tanpa disadari mendorong kita untuk berbuat sesuatu. Naluri adalah reaksi atau perbuatan yang tidak pernah kita pelajari atau alami terlebih dulu. Hewan beroperasi dengan naluri, misalnya laba-laba membuat sarang yang sama dan serupa polanya sejak zaman purba berdasarkan naluri.

Manusia beroperasi bukan dengan naluri, melainkan dengan nalar. Namun, manusia pun mempunyai naluri, misalnya naluri kehidupan dan naluri kematian.Naluri kematian adalah dorongan yang membuat kita insaf bahwa umur kita terbatas dan bahwa kematian adalah kenyataan yang tidak dapat dihindarkan. Apa yang kemudian kita perbuat dengan naluri itu? Tergantung dari kejiwaan dan kepribadian kita. Kita bisa membuat destruktif, meremehkan arti hidup dan mati. Sebaliknya, kita bisa menjadi naluri itu konstruktif, yaitu menghargai arti hidup. Jika kita menghargai hidup, kita akan menggembangkan dan membuahkan hidup sehingga kelak kematian tidak percuma. Sebaliknya, jika kita menyia-nyiakan sekian puluh tahun hidup kita maka kematian menjadi puncak dari segala penyia-nyiaan itu. “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.”

Apakah dalam hidup ini ada hal yang pasti? Ada. Tetapi hanya satu! Apa itu? Bahwa kita semua akan mati. Hanya itu yang pasti. Segala sesuatu lainnya serba belum pasti atau tidak pasti. Memento mori! Demikianlah bunyi peribahasa Latin. Artinya: Ingatlah, Anda akan mati! Apa perlunya kita dingatkan bahwa kita akan meninggal dunia? Bukankah kita sudah tahu? Benar, kita sudah tahu. Tetapi dalam kenyataan, kita sering pura-pura tidak tahu. Atau lebih tepat tidak mau tahu. Buktinya kita tidak mau berpikir atau berbicara tentang kematian.

Namun, dengan bersikap pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu, sebenarnya kita sedang membohongi dan membodohi diri sendiri. Dengan bersikap demikian kematian bukan jadi tidak ada, melainkan cuma disembunyikan untuk sementara waktu. Suatu kenyataan ada bukan untuk ditutupi, melainkan untuk dihadapi. Sebab itu, kita diingatkan: Memento mori! Ingat Anda akan mati! Apakah peringatan itu bermaksud untuk menakut-nakuti? Bukan! Apakah untuk mengancam atau mengintimidasi? Juga bukan.

Lihat bagaimana pemazmur mengemas atau merumuskan memento mori. Tulisnya,”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”(Mzm.90:12).Memento mori dikemasnya sebagai suatu permohonan. Ia memohon kepada Tuhan untuk belajar “menghitung hari.” Ungkapan “menghitung hari’ berarti menyadari bahwa hari-hari kita terdiri atas suatu jumlah yang terbatas. Sebab itu, pemazmur memohon agar ia mampu bersikap bijak dengan hari-hari yang terbatas itu. Ia memohon agar ia belajar menjalani hidup ini secara bijak. Inilah sikap pemazmur terhadap kematian.

Gereja kita ada yang disebut ”tahun gereja.” Ada 52 minggu ibadah berganti-ganti corak mengikuti masa. Tahun gereja dimulai dengan masa Adven yang terdiri dari empat Minggu sebelum 25 Desember. Sesudah itu tibalah masa Natal sampai Epifani, Paskhah dan Minggu Trinitatis dan diakhiri dengan “minggu memperingati orang yang meninggal.” Dengan menapaki tahun gereja kita belajar melihat dan memahami karya Kristus sebagai suatu kesatuan yang utuh.

Dalam tulisan Efraim (306-373) seorang perintis pendidikan Agama Kristen melalui lagu di Siria, sejak abad ke-4 gereja sudah mengenal ibadah Hari Semua Orang Kudus (All Saints Day) setiap 1 November. Dalam ibadah itu disebut nama tiap orang yang sudah mendahului kita. Ibadah mengenang orang yang sudah meninggal bukan berarti mendoakan keselamatan mereka atau berdoa memohon keselamatan dari mereka, melainkan berdoa untuk mensyukuri arti dan karya hidup mereka. Dalam Roma 8, tertulis: ”Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? baik maut, maupun hidup, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”(ay.35-39).

Ada dua peristiwa yang paling besar dampaknya dalam hidup seseorang, yaitu “kelahiran” dan “kematian.” Karena kelahiranlah maka kita ada di dunia, belajar dan bekerja, melakukan ini dan itu, menjadi begini dan begitu. Kalau dulu kita tidak dilahirkan, saat ini kita tidak ada. Sejajar dengan itu, karena kematianlah maka kita tidak akan ada lagi di dunia, tidak bisa belajar dan bekerja lagi. Tidak bisa melakukan ini dan itu. Tidak bisa lagi menjadi begini dan begitu.

Kelahiran ada di belakang kita, pada hal kematian masih ada di depan kita. Kita masih dapat berbuat sesuatu untuk memberi arti pada kematian kita. Bagaimana pula Anda menilai hidup yang akan Anda akhiri ini? “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading.” Artinya orang dikenang dari perbuatannya semasa hidupnya. Apa sumbangsih Anda yang berguna bagi dunia? Apa perasaan Anda dalam menilai hidup yang akan Anda akhiri ini? Maksudnya, dalam keadaan bagaimana kita meninggal dan dengan sikap serta perasaan –perasaan apa kita meninggal? Kematian berimplikasi dua kejadian yang sangat besar. Implikasi pertama adalah bahwa kita akan meninggalkan segala sesuatu yang ada pada kita. Kita tidak tahu; kapan, di mana,  bagaimana kita meninggalkan dunia ini. Kita akan meninggalkan sanak keluarga, kerabat dan sahabat kita, semua pekerjaan kita, semua kedudukan kita, semua harta benda kita dan sebagainya. Implikasi kedua adalah bahwa kita akan pergi menghadap Tuhan.

Perhatikan perasaan Paulus; ”Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan.” (2 Timoteus 4: 8) Lebih berguna bila sejak sekarang, selagi masih segar bugar, kita mulai memperhitungkan dan mengolah segala perasaan dan pikiran kita. Dengan kata lain; mulai menyiapkan diri menghadapi kematian. Menyiapkan diri menghadapi kematian adalah memberi isi kepada hidup yang sedang kita jalani supaya kelak pada waktu hidup berakhir, hidup kita mempunyai arti dan meninggalkan arti.

Dalam rumpun ilmu Pendidikan Agama Kristen (PAK) terdapat sub-ilmu kematian yang bersumber pada ‘Death Education. PAK kematian menolong orang mengidentifikasi pergumulan perasaan di sekitar kematian dan menolong orang mengintegrasikan kematian dengan kehidupannya. PAK kematian terbagi atas beberapa golongan usia naradidik, mulai dari anak kecil yang mengidap penyakit mematikan sampai lanjut usia yang meninggal secara wajar. Juga, sanak keluarga dan kerabat dari orang yang akan atau baru meninggal belajar memahami gejolak perasaan di sekitar kematian.

Kubler melayani para pasien yang hampir maninggal dunia. Ia melakukan riset tentang pergumulan jiwa orang yang menghadapi ajal. Riset ini menjadi salah satu cikal bakal studi psikologi/pedagogi kematian. Di dalam bukunya On Death and Dying, dia mengemukakan tentang lima kemungkinan tahap perasaan menjelang ajal. Pertama, penyangkalan, saat kita menolak datangnya maut. Kedua, marah. Ketiga, penawaran, saat kita berjanji untuk berperilaku lebih baik jika umur diperpanjang. Keempat, depresi karena ternyata kematian makin mendekat. Kelima, rasa damai saat kita menerima kenyataan dan berserah. Kelima, tahap ini bisa terjadadi juga  pada keluarga yang kekasihnya baru saja meninggal.

Tuhan Yesus menolong kita  untuk belajar percaya tentang arti hidup. Konteks belajar yang dipergunakan oleh Yesus adalah Marta yang menghadapi kematian Lazarus sebagai kenyataan. Ceritanya terdapat dalam Yohanes 11: 1- 44. Perhatikan kata ”belajar percaya” dalam ayat 15. Inti ajaran Yesus adalah: ”Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati”(ay.25-b) Artinya; baik dalam keadaan hidup maupun sesudah meninggal dunia, hubungan kita dengan Tuhan tetap berlangsung. Hidup adalah wujud hubungan yang utuh dan damai dengan Tuhan. Hidup adalah menerima dan rahmat Tuhan, dan hal itu tidak berakhir pada kematian,melainkan berlaku terus setelah kita meninggal dunia.

Sebab itu, kematian bukanlah kehilangan segala sesuatu sebab rahmat Tuhan tetap berlaku. Yesus menjelaskannya dengan pengalimatan lain, ”setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.”(ayat 25-c) Apakah jaminannya? Yesus menjamin, ”Akulah kebangkitan dan hidup.” (ay.25-a). Jaminannya adalah diri Yesus sendiri. Itulah ajaran Yesus kepada Marta. Apakah Marta mengerti? Rupanya tidak. Siapa yang bisa mengerti ajaran yang begitu mendalam? Tetapi apakah Marta percaya? Ia menjawab, ”Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias.” (ay.27) Apakah yang dipercaya Marta? Bukan sebuah ajaran, melainkan seseorang, yaitu Mesias. Marta tidak mengerti ajaran-Nya, tetapi ia percaya kepada Sang Pengajar. Kita percaya bahwa Kristus adalah kebangkitan dan hidup, sehingga kita bisa mempercayakan kepada Dia apa yang akan terjadi dengan hidup kita sesudah kematian.

Percaya seperti itulah yang bisa membuat kita meninggal dunia dengan damai. Memang kita akan melepas semua pelukan yang kita cintai di dunia ini, namun kita akan kembali ke pelukan Kristus. Ia menunggu. Ia tersenyum. Ia merentangkan kedua tangan-Nya lebar-lebar. Lalu Ia memeluk kita dengan erat dan hangat. Dalam percaya kepada Kristus, kita bisa meninggal dunia dengan tenang.

Pdt Luhut P Hutajalu HKBP Taman Mini

 

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.