KEPEMIMPINANAN UMAT KRISTEN SECARA ALKITABIAH

Oleh: Einar M Sitompul

Secara sederhana bagi saya kepemimpinan adalah kesadaran di dalam diri umat manusia untuk mempengaruhi sekitar agar berkembang ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Kesadaran itu ditanamkan sejak penciptaan ketika Allah memerintahkan agar manusia menguasai, memelihara dan mengusahakan alam ciptaan-Nya (Kejadian 1: 28; 2: 15).

Definisi lain ialah seseorang atau sekelompok orang yang mengemban peranan khusus dari lembaga/organisasinya untuk dilaksanakan sesuai dengan tugas yang ditetapkan. Saya tidak menyoroti ini sebab rekrutmen dan tugas pemimpin di dalam organisasi sudah memiliki aturan baku di dalam AP (Tata Gereja).

Peranan pemimpin hancur jika tidak mampu menentang godaan. Ketika manusia pertama tergoda bujuk rayu ular, mereka kehilangan jati diri: dari orang yang memimpin menjadi yang dipimpin, dari orang yang mestinya berinisiatif menjadi kehilangan arah, akhirnya mereka melarikan diri bersembunyi karena ketakutan (Kejadia 3) Mereka kehilangan orientasi, tidak solid lagi, tetapi malah saling menyalahkan. Sejak itu umat manusia terus menerus dirundung kesukaran dan kesusahan.

Panggilan kepada Abraham menegaskan bahwa kita sebagai umat-Nya dipanggil menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, bagi masyarakat (Kejadian 12: 1-3) Menjadi berkat menurut hemat saya bukan membangun diri sendiri agar makmur, sebab Abraham diperintahkan keluar dari lingkungan kemakmuran dan kenyamanan untuk berjalan menaati perintah Tuhan.  Abraham dan keturunannya terus menerus menghadapi tantangan baru dan berkat penyertaan Tuhan mampu mengatasinya serta kreatif  mengembangkan diri entah apa pun situasi luar sekitar mereka. Abraham ditempa dalam situasi konflik di sekitarnya, kelaparan, ancaman, dan harus membangun relasi dengan sekitar agar mereka mendapat tempat tinggal.

Walaupun Abraham dijanjikan tanah dan keturunan, ia tidak menunggu melainkan membangun hubungan bertetangga yang baik dengan orang sekitarnya, bahkan Melkisedek memberkatinya. Hubungan bertetangga hampir tidak digaungkan di dalam khotbah-khotbah dan PA kita. Saya rasa salah satu hambatan membangun rumah ibadah ialah hubungan bertetangga tidak berkembang. Jadi komunikasi tidak terjalin erat.

Tujuan kepemimpinan bukan untuk melebarkan organisasi supaya disegani kelompok lain. Karena itu dekat dengan sikap imperialisme atau sikap mengeksploitasi kelemahan orang lain untuk memperkuat diri sendiri. Panggilan Abraham ialah untuk menyatakan gaya hidup berbeda—yakin sepenuhnya percaya akan penyertaan Tuhan yang memanggil – dengan itu orang-orang akan mengenal dan memuji Allah. Jika melalui Abraham dan umat Allah, orang mengenal Allah Pencipta Langit dan Bumi, maka tercapai tujuan, yakni mewujudkan peranan misioner.

Musa dan Kepemimpinan Umat

Umat dibangun untuk menjadi berkat, di bawah kepemimpinan Musa. Allah mengikat perjanjian di Gunung Sinai: Ia menurunkan hukum Taurat dan umat wajib menaatinya. Pengalaman pembebasan dari perbudakan di Mesir menjiwai kehidupan umat agar berlaku adil sebagai wujud kehadiran kita sebagai umat Allah. Segenap ritual harus semakin mendorong umat untuk menjalankan kehendak Tuhan yakni ketaatan kepada-Nya dan kasih terhadap sesama (Mateus 22: 34-40).

Wujud nyata kepercayaan kepada Tuhan adalah sikap terhadap sesama. Alkitab lebih mengutamakan kasih sebagai manifestasi iman, bukan hukum, sebab ketaatan terhadap hukum dapat berjalan otomatis hasil latihan tetapi tidak melibatkan perasaan. Dengan pemberian hukum Taurat, umat Allah mengemban posisi kepemimpinan. Dengan menaati hukum Taurat terbentuk umat yang tangguh dan solid sehingga akan diteladani oleh masyarakat sekitar. Tetapi dalam perkembangan, umat Allah lebih memperhatikan pembangunan diri sendiri. Ini sering disebut membangun comfort zone. Akhirnya, kelompok menjadi tujuan bukan lagi wadah mencapai tujuan. Cara kita bergereja cenderung menjadi klub sosial, bergiat untuk diri sendiri. Entah mengapa, kita lebih mengutamakan koinonia dari pada marturia. Koinonia bukan marturia, selalu disebut duluan.

Keinginan membentuk kerajaan memunculkan Saul sebagai Raja dan diikuti oleh raja-raja lainnya sampai akhirnya Israel sebagai lembaga politik runtuh. Mengapa? Kelompok yang asyik mengurus dan membesarkan diri jatuh pada konflik internal berkepanjangan. Ada yang menyebut ini mental inward looking; sehingga setiap orang/kelompok berebut pengaruh, kuasa dan keuntungan. Bukan kebetulan para nabi muncul bersamaan dengan pemerintahan raja-raja di Israel. Kekuasaan sangat rentan terhadap penyalahgunaan wewenang sebab berkuasa itu sangat menyenangkan, apalagi mengingat pada zaman Perjanjian Lama, tidak ada yang mampu mengawasi para raja, pejabat dan kroninya.

Para nabi bertugas sebagai pengawal moral berlandaskan panggilan khusus dari Tuhan. Di dalam pandangan mereka keruntuhan Israel adalah akibat dosa terutama penindasan oleh kelompok kuat terhadap rakyat jelata, menipu, memperalat agama untuk menumpuk kekayaan, pendek kata mengabaikan keadilan. Maka akibatnya, tiang-tiang kemasyarakatan menjadi rapuh dan dengan sedikit guncangan, runtuhlah segenap bangunan. Dengan pengalimatan lain, ketika kepemimpinan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, maka bukan kemajuan yang kita raih melainkan kehancuran, itu lebih buruk dari kemunduran.

Pemimpin dan pengikut

Nama Yesus terpateri di hati kita sebagai Pemimpin Agung yang hidup dan ucapan-Nya kita jadikan sumber membangun kepemimpinan karena sikap-Nya yang penuh kasih, seperti seorang gembala yang baik, pribadi yang menarik/karismatis, pengetahuan-Nya, keteladanan yang ditekankan-Nya yakni sikap seorang pelayan dan gembala, dan ucapan/ajaran-Nya yang mencerahkan para pendengar-Nya. Keberadaan Yesus sebenarnya jauh dari gambaran yang diharapkan masyarakat di zaman Perjanjian Baru, bahkan sampai sekarang orang mungkin kurang puas mengamati kegiatan-Nya apabila ingin dijadikan model kepemimpinan. Selama kehidupan-Nya Ia hanya mengajar dua belas orang secara khusus dan itu pun hanya dalam waktu tiga tahun saja. Tetapi kesaksian sederhana tentang Dia yang ditulis keempat Injil tidak habis-habisnya mencurahkan butiran inspirasi bagi umat manusia di setiap zaman.

Model hubungan Yesus dengan murid-murid-Nya lebih menekankan Yesus Pemimpin dan murid adalah Pengikut. Sungguh tepat julukan untuk kita orang percaya yakni: pengikut. “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”, kata-Nya kepada murid-Nya (Markus 1: 17). Jika ada istilah leadership maka pasangannya adalah followership (kepengikutan),  memang istilah murid (kemuridan, discipleship) juga baik. Bagi saya pengikut lebih tepat; kita tidak hanya belajar tetapi mengikuti Dia dalam arti mengikuti-Nya secara total: sikap dan gaya hidup-Nya. Agar itu nyata dalam hidup kita karena kita pengikut-Nya, kita disebut orang Kristen. Kita pengikut bukan penganut ajaran.

Mari kita lihat beberapa kualitas khusus itu. Berbahagialah; Allah telah memasukkan kita dalam kerajaan-Nya tanpa syarat, semata-mata adalah anugerah-Nya, oleh sebab itu kita patut bersyukur setiap saat dan bersukacita. Ucapan berbahagia ini suatu ungkapan revolusioner. Allah menawarkan anugerah-Nya kepada umat manusia, bahkan kepada orang berdosa tanpa syarat.

Tidak memperalat agama untuk mencari pengaruh, seperti yang dikatakan-Nya tentang sedekah dan doa; jangan melakukannya agar dipuji orang (Mateus 6:1-4; 16-18). Kita sering tergoda untuk menonjolkan diri agar dipuji orang. Di sini Tuhan “disingkirkan” dan kita menonjolkan diri kita.

Yesus mengajar agar doa dipusatkan pada kepentingan kerajaan Allah, hidup sederhana dan pengampunan (Mateus 6: 9-23). Jika doa hanya untuk kepentingan diri sendiri, itu adalah hukum alam. Yang diminta dari kita lebih dari biasanya, yakni mendoakan perluasan kerajaan-Nya melalui kegiatan kita.

Tidak kuatir sebab kekuatiran bisa merusak kehidupan (Mateus 6:25-34). Bahkan dikatakan orang yang kuatir itu “ateis” (tidak mengenal Allah). Kekuatiran itu mengganggu kesehatan, dan merusak moral, karena orang didorong untuk korupsi, menipu dan memeras.

Selalu mewaspadai kemungkinan hadirnya ajaran sesat, mengajar kita bersikap kritis (Mateus 7:15-23). Sikap kritis amat diperlukan supaya bisa mendeteksi yang jahat di dalam bungkus kebaikan! Menjadi orang bijaksana (Mateus 7: 24-27). Orang bijaksana adalah orang memberi pengaruh positif melalui sikap yang tepat, pengendalian diri dan memiliki karakter.

Kesediaan berkorban; gagasan ini terbentuk dari dua profil pekerjaan, yakni hamba/pelayan dan gembala, karena puncak dari kesetiaan pelayan dan gembala ialah rela berkorban, bahkan nyawa, demi orang yang dipimpinnya (Markus  10:45 dan Yohanes 10:11) Ini suatu kualitas yang disebut orang komitmen.

Kepemimpinan gereja sekarang

Paulus patut disebut Rasul Kota sebab melalui surat-suratnya, ia dengan cerdas menguraikan esensi dari iman Kristen dan dihadapkan dengan konteks masyarakat zamannya. Kecenderungan yang diamatinya ialah bahaya bukan dari luar, bukan dari kelompok kuat dan juga bukan pemerintah Romawi. Bahaya besar yang dikuatirkannya akan menggerus jati diri gereja ialah godaan meniru dunia. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Rm. 12:2).

Terjemahan sederhana versi Modern English, “Jangan biarkan dunia memeras Anda ke dalam cetakannya”. Istilah “dunia ini” dapat juga diartikan “the present age“, zaman sekarang dengan semua daya tariknya. Dunia sangat senang apabila gereja menirunya sehingga tidak lagi “berbahaya”; gereja (agama) tidak akan menegur perilaku dunia, dan dunia semakin senang apabila gereja sama dengan perkumpulan dunia, yang memprioritaskan kenikmatan hidup. Komunitas akan penuh keriuhan, semarak, ritual meriah, pesta-pesta semakin mewah, dan rekreasi semakin lama. Komunitas beragama akan tumbuh seperti pohon besar dan rindang tetapi gersang buah dan akar dangkal. Sementara tiupan angin globalisasi bertambah deras dan kompetisi berlangsung ketat. Kelompok yang tidak kuat akar dan pohonnya, akan mudah tumbang dan tersingkir.

Kewajiban utama umat Allah ialah berjuang sekuat tenaga melawan bujuk rayu dunia, bahkan menentang usaha mendikte gereja agar patuh kepada kemauan dunia. Untuk mencegah itu kita mesti terus menyegarkan panggilan kepemimpinan gereja, panggilan untuk mempengaruhi dunia. Karena posisi kita ialah sebagai garam dan terang dunia (Mateus 5:13-16). Untuk itu kita harus peka perkembangan dan kecenderungan yang sedang berlangsung. Gereja tidak boleh mengabaikan sekitar seperti katak di bawah tempurung atau maju terus tidak melihat kiri kanan, seperti memakai kaca mata kuda. Karena itu gereja mesti terus menerus menyelenggarakan studi melalui PA, diskusi dan lokakarya dengan melibatkan warga jemaat dan kaum profesional dari berbagai disiplin ilmu/keahlian. Bagi saya, kepemimpinan gereja berarti gereja harus mempunyai kelebihan dibandingkan dengan masyarakat banyak!

Beberapa isu penting dewasa ini yang perlu kita simak yakni kesetaraan gender, kesehatan reproduksi, penyegaran pengertian perkawinan dan keluarga, teknologi, spiritualitas, demokrasi, pola hidup, dan keadilan ekonomi. Perhatian untuk ini semua, di gereja kita amat kurang dibandingkan dengan ritual dan acara sosial. Gereja tidak boleh buang badan mengenai isu ini, melainkan berusaha sekuat tenaga untuk memahami, menguasai masalah dan mampu mengenal bahaya-bahayanya, dan memetik hikmah di dalam perubahan; supaya kita dapat membedakan manakah kehendak Allah dan mana yang bukan, mana yang baik dan mana yang jahat (Rm. 12:2; Ibr. 5:14; Band. 1 Rj. 3:9). Mana yang duluan dibahas, tergantung pada jemaat setempat, tentu dengan memperhatikan kebutuhan yang paling mendesak.

Penulis: Einar M Sitompul

IKLAN

BUKU KERJA KERJA KERJA MAU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.